Upaya Tanoker Mencegah Penyakit melalui Pangan Sehat

0
188

Pangan lokal, makanan sehat. Itulah yang digelorakan oleh komunitas tanoker di Jember. Mereka ingin mengajak warga desa agar kembali mengonsumsi makanan sehat. Makanan yang diwariskan oleh para nenek moyang.

Tak perlu mahal, bahannya ada di sekitar perkampungan. Seperti sayur, buah-buahan, hingga beberapa sumber daya makanan lokal lainnya. Bahan tersebut dimasak, tanpa harus dicampur dengan bumbu yang mengandung bahan kimia, seperti pengawet, pewarna, dan pengembang makanan.

Bahan itu diolah menjadi berbagai produk makanan. Lalu dipamerkan dalam berbagai kegiatan Tanoker di Desa / Kecamatan Ledokombo. Makanan lezat yang siap disajikan.

“Kami di sini menunggu anak-anak, makanan mereka serba pakai micin,” kata Direktur Tanoker Farha Ciciek. Selain itu, banyak anak desa yang sajian makanannya kurang sehat. Padahal, pertimbangkan mendatangkan berbagai penyakit.

Ada yang makan mi instan tanpa dimasak, ada yang memakan buah menggunakan micin hingga berbagai makanan gorengan. Dapur rumah mereka lepas dari micin. Memasak sayur pun mengandung bumbu instan yang mengandung bahan kimia. “Bagi mereka, makan tanpa micin tidak puas,” katanya.

Kondisi berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para nenek moyangnya. Memasak secara alami dengan bumbu yang disehatkan. Seperti memasak sayur dengan cara direbus, atau buah pisang yang dikukus. “Sekarang, banyak yang beralih pada gorengan,” katanya.

Dampak, kata Ciciek, banyak anak yang sakit dan tumbuh kembangnya terganggu. Anak menjadi kurang gizi, ginjalnya bocor dan bengkak, penyakit tifus, sakit mag, dan lainnya. “Anak-anak minum minuman instan, akhirnya infeksi, panas, hingga sakit,” ungkapnya.

Berangkat dengan risiko itu, Tanoker yang selama ini mendampingi anak-anak buruh migran mulai gelisah melihat pola makan warga Ledokombo. Sebabnya, tak hanya anak-anak, orang tua mereka juga memiliki rentang penyakit yang tidak menular karena makanan yang kurang sehat.

Orang tua mereka, baik ayah dan ibu, sudah senang dengan masakan yang tidak sehat. Bagi mereka, memasak tanpa micin tidak sempurna. “Misal mereka panen padi, makanan yang dikirim, bapak-bapaknya tidak mau masakan tanpa micin,” jelasnya.

Diakuinya, ubah pola pikir memasak yang sehat dari dapur itu tidak mudah. Diperlukan perjuangan dan perjuangan melawan tantangan yang dilakukan warga. Untuk mewujudkan, tanoker mengampanyekan gerakan revolusi dapur.

Melalui kegiatan parenting  di sekolah  , Tanoker memberikan edukasi pada para ibu. Dilatih dengan cara memasak bersama, membuat lomba memasak sehat. “Lomba masak juga untuk bapak-bapak, tidak boleh pakai micin,” tambahnya.

Pangan yang disediakan untuk lomba yang merupakan bahan lokal dari hasil bumi Ledokombo. Seperti tempe, tahu, jamur, sayur-sayuran, hingga non-beras putih. Bahan tersebut harus diolah dengan kreativitas agar menjadi makanan yang menggugah selera.

Dia meminta agar warga desa memproduksi makanan sehat dengan sumber daya makanan lokal. Tujuannya agar masyarakat tidak memperhitungkan penyakit. “Materi makanan sehat kami masukkan dalam kurikulum sekolah  parenting di Sekolah Bok-Ebok, Sekolah Pak-Bapak, dan Sekolah Yang-Eyang,” jelasnya.

Tak hanya itu, pengajian di kampung juga dimanfaatkan untuk kampanye makanan sehat. Bila menjelaskan tentang makanan halal, sekarang ditambahi dengan makanan halal yang sehat melalui bahasa agama. “Ada ustad lokal yang juga mendakwahkan makanan sehat ini. Mengubah cara hidup di keluarga untuk memasak yang sehat, ”paparnya.

Tanoker menggandeng berbagai pihak guna kampanye makanan sehat. Mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM). Penyebab, gerakan kampanye makanan sehat hanya perlu dilakukan di akar rumput. Namun, juga harus merangkul kekuatan yang lebih besar, yaitu melalui kebijakan pemerintah.

Seperti menggandeng pemerintah desa melalui perdes yang dilakukan di Desa Sumbersalak. Kemudian, menggandeng sekolah untuk menerapkan kantin sehat. “Ada lembaga raudatul atfal (RA) yang sudah menerapkan kantin sehat di sini, kantin percontohan di Dusun Paluombo” akunya.

Tanoker mendorong pemerintah agar isu makanan sehat di dalam capaian indikator kabupaten layak anak (KLA). Seperti melalui pengelolaan kantin sehat anak di berbagai sekolah. “Ambil, pemkab berencana bangun seribu kantin sehat,” katanya.

Tanoker juga bersinergi melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dengan Puskesmas Ledokombo dan Dinas Kesehatan. Selain itu, menggandeng Dinas Pendidikan untuk mewujudkan kantin yang sehat bagi para pelajar. “Kami juga kampanye Piring Makanku, bagaimana makan sehat dengan pola yang benar, apa saja dan berapa takarannya,” terang istri dari Suporahardjo tersebut.

Selain itu, Tanoker menggandeng Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember. Melalui kerja sama itu, banyak pengetahuan baru diperoleh. Misal mengetahui bahwa tepung terjelek adalah tepung putih atau tepung terigu. “Kami belajar dengan tepung mocaf dan membuat produk dari tepung alternatif,” jelasnya.

Nina Rahmwati, peneliti dari Food Diaries Jember  FKM Unej yang bekerja sama dengan Tanoker menyampaikan hasil penelitiannya tentang pola makan masyarakat yang cukup memprihatinkan. Dia bersama timnya membahas di enam kecamatan, yaitu Tanggul, Kaliwates, Ambulu, Puger, Ledokombo, dan Sumberjambe.

Menurut dia, alasan utama memilih makanan adalah mengikuti selera keluarga. Garam dan monosodium glutamat (MSG) Sebagian besar keluarga di Jember menggunakan bumbu instan sebagai bahan pelengkap masakan.

“Rata-rata konsumsi MSG dalam sehari kurang lebih 11 gram, jadi konsumsi MSG dalam seminggu bisa mencapai 70-80 gram,” ungkapnya. Selain itu, jika mereka membeli makanan di luar rumah, pasti akan menggunakan MSG. Seperti dari makanan instan, jajanan anak, cilok, bakso, dan mi ayam.

“Mi instan dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat, diambil lauk,” katanya. Selain itu, sebagian besar keluarga di Jember menyukai makanan yang dimasak menggunakan minyak atau dengan digoreng. Diakuinya, akses anak terhadap makanan tidak sehat lebih mudah ditemui saat berada di luar rumah. “Pengawet hampir ada pada semua jajanan,” aku Nina.

Orang tua yang memiliki kesadaran makanan sehat mempertahankan makan pagi di rumah. Namun, saat ini di luar rumah, mereka disergap dan tidak sanggup melindungi diri dari pola konsumsi yang tidak sehat.

Padahal, jajanan itu sehat dan tumbuh-kembang anak yang masih dalam usia emas. Untuk dianggap, gerakan kembali dan perlu pada makanan sehat perlu terus dilakukan. “Batasi konsumsi makanan manis, asin, dan berlemak,” sarannya.

Sekarang, penyakit tidak menular meningkat karena pola makan dan gaya hidup tidak sehat. Pola konsumsi makanan hari ini banyak di padi-padian, minyak, lemak, dan gula. Kurang pada makanan hewani, kacang-kacangan, sayur dan buah.

Masalah yang menyangkut warga desa adalah kualitas rendah dan kelebihan konsumsi makanan. Budaya masyarakat kurang mendukung konsumsi beragam, bergizi seimbang, dan aman. Padahal, potensi makanan hewani dan nabati cukup besar dan beragam.

“Kami sampaikan pada warga, kebanyakan pelajar, agar memperhatikan makanan yang bergizi,” tambah Jono Wasinuddin, Camat Ledokombo. Kecamatan mengimbau pada lembaga TK dan SD agar memperhatikan konsumsi makanan tersebut.

Survei dari Sun Movement Sekretariat tahun 2013 menyatakan, investasi gizi satu dolar, mampu menghasilkan 48 dolar dalam bentuk pendidikan, kesehatan, dan produktivitas ekonomi. Investasi gizi ini membantu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan PDB negara dua hingga tiga persen per tahun.

“Untuk Germas sendiri, kami gandeng muspika untuk gerakan hidup sehat,” ujar Jono. Seperti olahraga bersama, periksa kesehatan dan sosialisasi makanan sehat. Semua itu tergabung dalam program Gerakan Relawan bersama TNI, Polri, puskesmas, dan warga.

Pengayaan ragam konsumsi pangan diatur dalam UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Pasal 60 menyebutkan, pemda wajib mewujudkan pengupayaan pangan untuk pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat dan pendukung kehidupan sehat, produktif, dan aktif. “Pencegahan penyakit tidak menular kami imbau warga konsumsi makanan bergizi,” paparnya.

Kemudian, strategi mewujudkan konsumsi makanan beragam melalui peningkatan hingga tingkat rumah tangga. Seperti pengoptimalan pangan lokal, pemanfaatan lahan pekarangan, dan lainnya.

Gerakan diversifikasi makanan melalui konsep Isi Piringku. Yakni mengganti pesan empat sehat lima sempurna menjadi gizi seimbang. Yaitu makanan pokok, lauk pauk, sayur, dan buah-buahan. Selain itu, hidup sehat dan sehat. “Seperti mencuci tangan, aktivitas fisik, melakukan tugas berat, dan minum air putih yang cukup,” pungkasnya. (*)

Dikutip dari https://radarjember.jawapos.com/2019/06/12/upaya-tanoker-mencegah-penyakit-melalui-pangan-sehat/

SHARE