Dalam rangka memperingati Hari Anti KekerasankTerhadap Perempuan Internasional, Tanoker Ledokombo bekerjasama dengan In-Docs, Yayasan Gerontologi Abiyoso, Karangwreda Ledokombo, Karangwreda Kalisat, Sekolah Eyang, dan Sudut Kalisat telah menyelenggarakan acara nonton bareng dan diskusi film “Karsih” pada 25 November 2021. Acara berlangsung di dua titik, yaitu di Kecamatan Kalisat dan Kecamatan Ledokombo yang diselenggarakan secara hybrid. Nonton bareng dihadiri oleh kelompok sekolah eyang eyang, sekolah bok ebok, sekolah pak bapak, forum anak, Gerontologi Abiyoso, InDocs dan Tanoker Ledokombo.
Film Karsih merupakan produksi Helga Theresia dan Fajrian, hasil dari program Indonesian Distanced Stories yang diorganisir oleh Scottish Documentary Institute, In-Docs, dan British Council Indonesia. Ia merupakan sebuah film yang menggambarkan kondisi perempuan, khususnya lansia yang mengalami degradasi sehingga terjadi pengabaian, pengacuhan hingga dikucilkan. Selain itu juga ada represi baik secara lembut maupun keras terhadap fisik, material maupun spiritual mereka.
Hal tersebut digambarkan dan dikemas secara popular dengan menonjolkan perjuangannya sendiri dengan kemampuan yang tersisa untuk terus melawan keadaan dan menyintas. Hal ini bisa saja terjadi baik di kota maupun di desa dengan bentuk dan cara yang beragam.
Acara diskusi berlangsung menarik dan mendapatkan banyak feedback sebagai sebuah sarana bagi para peserta untuk menyampaikan aspirasinya. Tidak hanya dari kalangan lansia, beberapa peserta dari kalangan pemuda dan juga dari generasi ketiga yang turut menyaksikan film tersebut juga turut serta buka suara.
“Saya sayang Mbah. Mbah nggak boleh capek!” Ujar Nazal dan Bilal, generasi ketiga, cucu para eyang, memberikan komentarnya seusai menyaksikan film Karsih.
Cahaya Novalinda, perwakilan dari pemuda Kalisat, menyampaikan bahwa penayangan film Karsih ini memperjelas adanya gap atau jarak antara orang tua dengan anak yang mungkin tidak sengaja terjadi di lingkungan keluarga.
“Dari Film Karsih bisa kita refleksikan bahwasanya, lansia perempuan yang sudah sepuh seharusnya juga berhal diberi kebebasan. Tidak sebebas bebasnya, karena saya yakin semuanya sudah mengerti tata aturan dan norma yang berlaku. Mari kita beri kesempatan bagi mereka dengan ruang gerak yang cukup. Karena kalau tidak diberi ruang gerak yang cukup, bisa mengalami kekerasan. Beri mereka kesempatan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang disuka.”, ungkap Imam Soebagio dari Yayasan Gerontologi Abiyoso Jember.
Imam Soebagio juga berharap agar anak cucu juga mengerti apa yang diinginkan dan diharapkan oleh orang tuanya. Kebahagiaan orang tua, khususnya bagi mereka yang sudah lansia adalah kebahagiaan bagi semua pihak khususnya keluarga. Karena itu, jangan memaksa mereka melakukan kegiatan yang tidak disuka.
Sementara itu, bagi Yayuk, salah satu peserta lansia di Kalisat, film Karsih membuka ruang emosi yang mendalam dalam dirinya. Ia adalah sebuah refleksi panjang pada kehidupannya dalam merawat orang taunya. Sepanjang pemutaran film Karsih, mata Yayuk terlihat berkaca-kaca. Ia juga menangis ketika menyampaikan refleksi pemahamannya terkait film yang dipitar selama 16 menit itu.
“Gambaran lansia bagi saya adalah, the beautiful sunset of life. Kondisi ini adalah dambaan umat. Untuk menunjang kehidupan di hari tua yang bahagia, harus ada pemenuhan HAM bagi lansia perempuan. Hal ini penting sekali. Hak untuk bahagia, bersuara, bergerak dan menafsirkan. Lansia dan anak ada tetapi sering ditiadakan.” Ujar Farha Ciciek, Founder Tanoker Ledokombo.
Menurutnya, hal ini juga menjadi kesadaran kritis dan menjadi media pengingat untuk semua pihak. Ada peran serta dan tanggung jawab pemerintah serta masyarakat terkait hal ini. Melalui pemutaran film ini diharapkan dapat menjadi ruang diskusi, ruang refleksi dan ruang belajar bersama dalam membangun cara pandang yang lebih manusiawi terhadap kelompok kelompok rentan, salah satunya lansia perempuan.

 

SHARE